Libya Kirim Penjaga Perdamaian ke Filipina
Mei 13, 2008 at 6:18 am Tinggalkan komentar
Libya akan menambah pasukan penjaga perdamaiannya di Filipina selatan, kata pejabat Filipina pada Senin (12/5), saat Malaysia mulai menarik tentaranya di tengah jalan buntu perundingan perdamaian dengan pejuang Moro.
Presiden Gloria Arroyo meminta Libya membantu saat Malaysia mulai menarik 40 tentara dan polisinya dari pulau Mindanao, Filipina selatan.
Tripoli, yang sudah mempunyai enam pemantau di Mindanao, setuju mengirim 25 orang untuk mengisi kekosongan, yang ditinggalkan pasukan Malaysia, kata Jesus Dureza, penasehat Arroyo untuk perdamaian itu.
Satuan asing kecil penjaga perdamaian memantau gencatan senjata antara Manila dengan Kubu Pembebasan Islam Moro (MILF) sejak 2003 dan dipuji dalam mengurangi bentrok dan ketegangan di daerah itu.
Penyelesaian politik Manila dengan MILF, yang beranggota 12.000 orang, buntu pada beberapa bulan terakhir akibat keluasan wilayah di bawah kendali kelompok pejuang tersebut.
Kualalumpur pada pekan lalu menyatakan tidak akan melanjutkan penempatan tak terbatas di satuan pemantau itu tanpa kemajuan nyata dalam pembicaraan perdamaian tersebut, yang memicu ketakutan akan perang saudara lagi.
“Pemerintah Libya setuju mengirim 25 pemantau gencatan senjata untuk membantu melenggengkan gencatan senjata di Mindanao,” kata Dureza dalam pernyataannya.
Juru bicara kedutaanbesar Libya di Manila tidak dapat dihubungi untuk memberi tanggapan pada Senin (12/5) malam.
Tentara Malaysia pada akhir pekan lalu mulai ditarik dari pulau bergolak Mindanao, kata saksi dan petugas bandar udara.
Penarikan 40 tentara Malaysia dari empat kota di pulau itu akan menyisakan hanya 21 tentara Malaysia di wilayah tersebut.
Satu pesawat angkut tentara terbang ke kota Davao dan General Santos untuk mengambil satuan pemantau gencatan senjata itu, sebelum berhenti di Cotabato dan pelabuhan kota Zamboanga dan kembali ke Malaysia.
Ketua satuan pemantau, Mayor Jenderal bin Yashin Daud, sebelumnya menyatakan, sebagian yang ditinggal di Cotabato segera kembali ke Malaysia saat mereka mengakhiri tugas pada September depan.
Menteri Luar Negeri Malaysia, Rais Yatim, dalam lawatannya ke Filipina belum lama ini menyatakan, berharap ada keputusan yang dapat memberikan kesempatan bagi kedua pihak menilai masalah dalam pembicaraan dalam kaitan alur perdamaian.
Kendati demikian, penarikan tentara Malaysia dikhawatirkan merebakkan kembali pertempuran di Filipina selatan, tempat MILF berperang sejak 1978 dengan tujuan membentuk negara Islam di sepertiga wilayah selatan dari negara kepulauan tersebut.
Filipina pada tengah pekan lalu meminta Malaysia tetap mendukung alur perdamaian di wilayah itu setelah Kualalumpur menarik pemantau mereka dari wilayah bergolak tersebut.
Presiden Gloria Macapagal Arroyo menerima Menteri Luar Negeri Malaysia, Rais Yatim, di istana Malacanang. Setelah itu, Rais melakukan perundingan dengan Menteri Luar Negeri Alberto Romulo.
“Presiden mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Malaysia atas segala usaha dan bantuannya kepada kami dalam alur perdamaian di Filipina selatan,” kata pembantu utamanya, Sekretaris Eksekutif Eduardo Ermita kepada wartawan.
Tindakan itu secara luas dianggap sebagai tanda ketidaksabaran atas kelambatan kemajuan perundingan perdamaian antara Manila dengan kelompok pejuang MILF. (kpl/rif-www.kapanlagi.com)
Entry filed under: Uncategorized. Tags: .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed