Archive for Mei, 2008

Tentara Filipina Selidiki Pencurian Senjata di Pulau Selatan

Filipina menahan dua tentara dengan tuduhan merampok persenjataan batalion di daerah pemberontakan di pulau Mindanao, Filipina selatan, dan kemudian menuding pemberontak untuk pencurian itu, kata juru bicara tentara pada Senin (26/5).Batalion zeni, yang ditempatkan di daerah Compostela, kehilangan 20 senapan serbu dan satu senapan mesin ringan pada pekan lalu dan dua tentara, yang ditugaskan saat itu, menyatakan gerombolan pimpinan Maois bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Tapi, penyelidikan awal tentara dan polisi menduganya sebagai pekerjaan orang dalam, kata Letnan Kolonel Romeo Brawner. “Pelaksanaannya direncanakan dengan baik. Mereka membuatnya tampak seperti serangan pemberontak komunis, tapi ada tanda dongeng bahwa itu perampokan biasa,” katanya. Sejumlah tentara juga dilarang meninggalkan asrama menunggu pemeriksaan.

Pada Minggu (25/5), dua tentara itu menyatakan diserang ratusan gerilyawan pimpinan Maois, yang mengambil keuntungan besar dan melarikan persenjataan.Filipina melawan pemberontak komunis hampir 40 tahun di 69 dari 81 propinsi di seluruh negara Asia tenggara tersebut.Sengketa itu menewaskan lebih dari 40.000 orang.

Gerilyawan komunis pada pekan lalu menyerang penjara di Filipina selatan dan merampok persenjataan, kata tentara. Penjaga di penjara propinsi Davao Timur di kota Mati dilucuti tanpa perlawanan dan kelompok bersenjata Tentara Rakyat Baru (NPA) itu melarikan lima senapan, dua senapan buru, dua pistol dan tiga radio komunikasi, kata komando divisi Angkatan Darat Filipina di Tahum.

Sekitar 70 pemberontak bersenjata berat terlibat dalam serangan pada tengah hari itu, kata pejabat tentara. Tidak ada laporan tentang korban atau pelarian tahanan dalam serangan tersebut. Itu merupakan serangan kedua terang-terangan NPA atas penjara di Filipina selatan dalam delapan bulan terakhir.

Pada Oktober lalu, gerilyawan komunis menyerang Kumpulan Hukuman Davao di kota Dujale dan mencuri lebih dari 100 senjata api.

NPA adalah gerombolan 5.000 orang bersenjata sayap Partai Komunis Filipina, yang memerangi pemerintah sejak 39 tahun lalu.

Norwegia menjadi tuan rumah perundingan antara pemerintah Filipina dengan pemimpin pemberontakan terlama Maois di Asia Tenggara itu, yang tinggal di pengasingan, kata pernyataan kedutaan Norwegia di Manila pada pekan lalu.

Pernyataan itu mengatakan, kedua pihak bertukar pandangan mengenai kedudukan alur perdamaian dan sepakat bertemu lagi pada tanggal ditentukan kemudian pada akhir tahun ini dan meminta Oslo sebagai tuan rumah perundingan.

Presiden Gloria Macapagal Arroyo menyeru penghentian perundingan perdamaian dengan Partai Komunis Filipina pada empat tahun lalu, dengan menyatakan pemberontak tidak berminat melakukan penyelesaian lewat politik. Norwegia menjadi tuan rumah pertemuan tak resmi antara kedua pihak dalam rangka memulai kembali alur perdamaian itu.

Pemerintah Norwegia dalam lamannya menunjukkan gambar pendiri Partai Komunis Filipina Jose Maria Sison, yang tinggal di pengasingan di Belanda, yang berdampingan dengan wakil pemerintah Filipina Nieves Confesor dan tuan rumah mereka pada saat pembicaraan pada 13-15 Mei Arroyo menetapkan tahun 2020 sebagai tenggat menghancurkan pemberontakan itu.

Pemberontakan tersebut menewaskan puluhan ribu orang dan Arroyo menyatakan itu membuat mundur pembangunan di sebagian besar daerah di Filipina, tempat NPA melancarkan serangan atas sarana niaga sebagai bagian dari siasat gerakan mereka. (www.kapanlagi.com)


Mei 27, 2008 at 3:04 am Tinggalkan Komentar

Norwegia Tuan Rumah Perundingan Filipina-Pemberontak Maois

Sabtu, 17 Mei 2008 07:20

Norwegia menjadi tuan rumah bagi perundingan-perundingan antara Filipina dan para pemimpin pemberontakan Maois terlama di Asia Tenggara yang tinggal di pengasingan, kata satu pernyataan yang dikeluarkan kedutaan di sini Jumat (16/5). Pernyataan itu mengatakan, kedua pihak `saling bertukar pandangan mengenai status proses perdamaian` dan telah sepakat untuk bertemu lagi pada tanggal yang ditentukan kemudian pada `akhir tahun ini`, dan meminta Oslo sebagai tuan rumah perundingan.

Presiden Gloria Arroyo menyerukan berhentinya usaha perundingan perdamaian dengan Partai Komunis Filipina empat tahun lalu, seraya menyatakan bahwa pemberontak tidak berminat untuk melakukan penyelesaian lewat politik. Norwegia menjadi tuan rumah pertemuan tak resmi antara kedua pihak dalam rangka memulai kembali proses perdamaian itu.

“Pemerintah Norwegia bertindak sebagai tuan rumah penyelenggara dan pihak ketiga sebagai memfasilitasi perundingan, yang dilakukan atas permintaan kedua pihak,” kata Raymon Johansen, sekretaris negara pada kementerian luar negeri Norwegia, dalam pernyataan yang dikeluarkan kedutaan.

“Norwegia mencari jaminan bahwa upaya-upaya untuk menyelesaikan `konflik-konflik yang hampir terlupakan itu` menerima dukungan internasional yang diperlukan,” katanya menambahkan.

Pemerintah Norwegia dalam laman internetnya menunjukkan gambar pendiri Partai Komunis Filipina, Jose Maria Sison, yang tinggal di pengasingan di Negeri Belanda, yang berdampingan dengan wakil pemerintah Filipina Nieves Confesor dan tuan rumah mereka pada saat konsultasi 13-15 Mei. Tidak ada reaksi dari pemerintah Filipina mengenai hal itu.

Arroyo telah menetapkan tahun 2020 sebagai target untuk menghancurkan pemberontakan yang berumur 39 tahun itu, yang saat ini mempunyai tentara, yakni Tentara Rakyat Baru (NPA) yang didukung 5.000 orang. Pemberontakan telah diklaim telah menewaskan puluhan ribu orang dan Arroyo mengatakan, hal itu membuat mundur pembangunan di sebagian besar daerah di Filipina, di mana pemberontak NPA melakukan serangan bisnis sebagai bagian dari taktik operasi militer mereka. Dalam aksi permusuhan terakhir, seorang polisi tewas dan 12 rekannya cedera dalam serangan NPA di dekat kota Mabini, di pulau selatan Mindanao, kamis (15/5), tutur polisi. (www.kapanlagi.com)

Mei 20, 2008 at 4:59 am Tinggalkan Komentar

Libya Kirim Penjaga Perdamaian ke Filipina

Libya akan menambah pasukan penjaga perdamaiannya di Filipina selatan, kata pejabat Filipina pada Senin (12/5), saat Malaysia mulai menarik tentaranya di tengah jalan buntu perundingan perdamaian dengan pejuang Moro.

Presiden Gloria Arroyo meminta Libya membantu saat Malaysia mulai menarik 40 tentara dan polisinya dari pulau Mindanao, Filipina selatan.

Tripoli, yang sudah mempunyai enam pemantau di Mindanao, setuju mengirim 25 orang untuk mengisi kekosongan, yang ditinggalkan pasukan Malaysia, kata Jesus Dureza, penasehat Arroyo untuk perdamaian itu.

Satuan asing kecil penjaga perdamaian memantau gencatan senjata antara Manila dengan Kubu Pembebasan Islam Moro (MILF) sejak 2003 dan dipuji dalam mengurangi bentrok dan ketegangan di daerah itu.

Penyelesaian politik Manila dengan MILF, yang beranggota 12.000 orang, buntu pada beberapa bulan terakhir akibat keluasan wilayah di bawah kendali kelompok pejuang tersebut.

Kualalumpur pada pekan lalu menyatakan tidak akan melanjutkan penempatan tak terbatas di satuan pemantau itu tanpa kemajuan nyata dalam pembicaraan perdamaian tersebut, yang memicu ketakutan akan perang saudara lagi.

“Pemerintah Libya setuju mengirim 25 pemantau gencatan senjata untuk membantu melenggengkan gencatan senjata di Mindanao,” kata Dureza dalam pernyataannya.

Juru bicara kedutaanbesar Libya di Manila tidak dapat dihubungi untuk memberi tanggapan pada Senin (12/5) malam.

Tentara Malaysia pada akhir pekan lalu mulai ditarik dari pulau bergolak Mindanao, kata saksi dan petugas bandar udara.

Penarikan 40 tentara Malaysia dari empat kota di pulau itu akan menyisakan hanya 21 tentara Malaysia di wilayah tersebut.

Satu pesawat angkut tentara terbang ke kota Davao dan General Santos untuk mengambil satuan pemantau gencatan senjata itu, sebelum berhenti di Cotabato dan pelabuhan kota Zamboanga dan kembali ke Malaysia.

Ketua satuan pemantau, Mayor Jenderal bin Yashin Daud, sebelumnya menyatakan, sebagian yang ditinggal di Cotabato segera kembali ke Malaysia saat mereka mengakhiri tugas pada September depan.

Menteri Luar Negeri Malaysia, Rais Yatim, dalam lawatannya ke Filipina belum lama ini menyatakan, berharap ada keputusan yang dapat memberikan kesempatan bagi kedua pihak menilai masalah dalam pembicaraan dalam kaitan alur perdamaian.

Kendati demikian, penarikan tentara Malaysia dikhawatirkan merebakkan kembali pertempuran di Filipina selatan, tempat MILF berperang sejak 1978 dengan tujuan membentuk negara Islam di sepertiga wilayah selatan dari negara kepulauan tersebut.

Filipina pada tengah pekan lalu meminta Malaysia tetap mendukung alur perdamaian di wilayah itu setelah Kualalumpur menarik pemantau mereka dari wilayah bergolak tersebut.

Presiden Gloria Macapagal Arroyo menerima Menteri Luar Negeri Malaysia, Rais Yatim, di istana Malacanang. Setelah itu, Rais melakukan perundingan dengan Menteri Luar Negeri Alberto Romulo.

“Presiden mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Malaysia atas segala usaha dan bantuannya kepada kami dalam alur perdamaian di Filipina selatan,” kata pembantu utamanya, Sekretaris Eksekutif Eduardo Ermita kepada wartawan.

Tindakan itu secara luas dianggap sebagai tanda ketidaksabaran atas kelambatan kemajuan perundingan perdamaian antara Manila dengan kelompok pejuang MILF. (kpl/rif-www.kapanlagi.com)

Mei 13, 2008 at 6:18 am Tinggalkan Komentar


Kalender

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pos Berdasarkan Bulan

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.