Archive for Maret, 2008

Weekly News

20/Maret/2008

Ledakan Granat di Filipina, 3 Tewas



Manila (ANTARA News) –

Ledakan granat menewaskan tiga orang dan 19 orang lainnya cedera di Filipina selatan, Sabtu.
Kejadian tersebut terjadi di provinsi Davao del Sur ketika berlangsungnya suatu acara disko pada pukul 10.00 malam waktu setempat, televisi Filipina GMA New melaporkan.
Investigasi awal menunjukkan bahwa Reto Pelonio, anggota organisasi relawan sipil, yang dilaporkan mabuk pada saat itu, melemparkan sebuah granat ketika berlangsung acara dansa.
Polisi mengatakan kemungkinan Pelonio menaruh granat itu di sakunya dan meledak karena di sana tidak terdapat lubang di tempat ledakan, demikian Xinhua.(www.antara.co.id)

Maret 22, 2008 at 6:35 am Tinggalkan Komentar

Weekly News

Ribuan Orang Mudik Paskah di Filipina

Kamis, 20 Maret 2008 | 13:33 WIB

MANILA, KAMIS- Filipina mengerahkan tambahan lebih dari 120.000 personel untuk mengamankan perayaan paskah di negeri mayoritas Katolik itu. Polisi bersama tentara juga dikerahkan di sejumlah tempat umum, seperti terminal bus. Selain mencegah kriminalitas, personel polisi dan tentara itu juga membantu warga yang akan mudik ke kampung-kampung halamannya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, libur paskah bagi warga Filipina merupakan hari mudik ke kampung halaman untuk bertemu keluarga dan merayakan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus bersama.Hari Kamis (20/3) ini, ribuan orang mulai berbondong-bondong ke terminal bus untuk memulai hari pertama libur empat hari Paskah.

Berkait dengan ritual penyaliban yang biasa dilakukan di sejumlah tempat, pimpinan umat Katolik Filipina telah mengimbau agar hal itu tidak dilakukan. Hari Rabu kemarin, Uskup Agung San Fernando City, Paciano B. Aniceto di Provinsi Pampanga menyatakan ketidaksetujuannya dengan ritual penyaliban secara langsung itu.

Menurut dia, pengampunan tidak harus dilakukan dengan drama penyaliban secara langsung. “Dan saya biasanya mengimbau untuk tidak dilakukan,” kata Aniceto dalam sebuah pernyataan yang diposting ke situs Konferensi Waligereha Filipina.

Untuk mengenangkan kisah sengsara Yesus, sebagian umat Katolik Filipina biasa memeragakan kisah itu, lengkap dengan menyalibkan si pemeran Yesus. Dalam drama yang biasa dilakukan pada hari Jumat Agung itu, dua telapak tangan si pemeran Yesus dipentang di kayu salib, kemudian dipaku.

Hari Kamis ini, Sekretaris Kementerian Kesehatan Francisco Duque mengingatkan bahwa ada kemungkinan si pemeran Yesus akan terinfeksi tetanus akibat penyaliban itu. Kalau pun akhirnya penyaliban harus dilakukan, ia mengimbau agar paku yang digunakan sudah disterilkan terlebih dahulu (www.kompas.com)

 

Maret 22, 2008 at 6:01 am Tinggalkan Komentar

Weekly News

07/03/08 14:33

Gerilawan Serang Tempat Penambangan di Filipina

Manila (ANTARA News) – Pemberontak Komunis telah menyerang sebuah tempat penambangan di bagian selatan Filipina, membakar peralatan berat dan merampas senjata dari penjaga keamanan, kata para pejabat, Jumat.

Sekitar 50 gerilyawan menyerbu Apex Mines di kota Maco, Compostela Valley, 960 km selatan Manila, Kamis petang, kata Kepala Polisi inspektur Adolfo Eyan.

Tidak seorang pun terluka dalam serangan itu, namun para gerilyawan membakar beberapa peralatan penambangan.

Jurubicara Angkatan Darat Letnan Kolonel Colonel Benito de Leon mengatakan para gerilyawan juga menambakkan senjata api dari pos keamanan perusahaan itu.

“Mereka melucuti pos keamaman itu dan mengambil lima senjata M16, beberapa pistol dan revolver,” katanya.

Polisi dan tentara dikerahkan untuk mengejar para gerilyawan tersebut.

Apex, yang sebagian sahamnnya dimilili London Crew Gold Minerals yang berpusat di London, telah memiliki izin untuk melakukan penambangan sekitar 1.000 hektar di kota itu.

Serangan itu merupakan kejadian terkini yang dilancarkan oleh pemberontak komunis di bagian selatan Filipina.

Bulan silam, pemberontak komunis juga menggempur instalasi pemrosesan emas di dekat kota Monkayo, Compostela Valley, menewaskan dua aparat keamanan.

Di tengah meningkatnya serangan, pemerintah Filipina telah mengumumkan rencana membentuk pasukan pertahanan investasi untuk mengawal tempat-tempat penambangan, fasilitas instalasi listrik dan infrastruktur lainnya yang kerap menjadi sasaran gerilyawan.

Militer juga telah mulai melatih milisia pemerintah untuk membantu mengamankan tempat penambangan terhadap serangan gerilyawan.

Pasukan angkatan darat juga menyediakan senjata bagi milisia, namun perusahaan – perusahaan itu yang membayar gaji mereka, demikian DPA.(www.antara.co.id)

Maret 11, 2008 at 12:17 pm Tinggalkan Komentar

Weekly News

 March 8, 2008 

Ancaman People Power Ketiga di Filipina

By Goenawan Lee posted on Mar 5th, 2008

Dua puluh dua tahun sudah berlalu sejak demonstrasi massal tanpa kekerasan yang menumbangkan Ferdinand Marcos di Filipina. Peristiwa yang dikenal dengan nama People Power atau Revolusi EDSA itu terjadi di Epifanio de los Santos Avenue (EDSA), sebuah jalan di Manila yang merupakan salah satu sentra terpenting di Filipina. Tahun 2001, aksi serupa terjadi kembali, ratusan ribu rakyat Filipina turun ke jalan menuntut mundurnya Joseph Estrada yang terjegal kasus korupsi.

EDSA

Rezim otoriter Ferdinand Marcos berakhir tahun 1986 setelah lebih dari 200.000 rakyat Filipina yang didukung oleh beberapa tokoh politik dan disokong oleh mayoritas pihak militer turun ke jalan selama 4 hari berturut-turut menuntut turunnya Marcos. Selama 20 tahun rezim Marcos berkuasa, rakyat sudah tidak percaya lagi kepada pemerintahannya. Gejolak mulai meningkat setelah peristiwa pembunuhan tokoh oposisi Benigno Aquino sepulang dari pengasingannya di Amerika Serikat pada tahun 1983. Aksi massa dimulai ketika timbul kecurigaan adanya kecurangan pada pemilihan umum yang dimenangkan oleh Marcos pada tahun 1986. People Power berhasil, dan Corazon Aquino naik menjadi presiden berikutnya.

Sekali lagi aksi massa terjadi. Tahun 2001 presiden Joseph Estrada terpaksa mundur karena People Power kedua di jalan EDSA. Estrada yang terkena kasus korupsi ratusan juta Peso dari permainan ilegal dan pajak dituntut mundur oleh sebagian anggota senat. Aksi massa selama 4 hari akhirnya mampu membuat Estrada mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan presiden kepada wakil presiden saat itu, Gloria Macapagal Arroyo.

Pemerintahan Arroyo pun tidak lepas dari kasus korupsi. Parahnya korupsi di kalangan pejabat pemerintah, terlebih lagi ketika kasus korupsi yang melibatkan suami Arroyo, Jose Miquel Arroyo, terkait suap senilai 330 juta US Dolar dengan perusahaan dari Tiongkok, ZTE Corporation, ditambah dengan dugaan kecurangan pemilu 2004 yang dilakukan Arroyo membuat rakyat semakin tidak percaya pada pemerintahan Arroyo dan banyak pihak memintanya untuk mundur.

25 Februari 2008, bertepatan dengan peringatan 22 tahun People Power pertama, sekitar 6.000 demonstran yang disokong koalisi anti-pemerintah melakukan aksi dengan menyerukan Arroyo agar segera mundur. 22 Februari sebelumnya juga 10.000 demonstran memenuhi Manila. Dan pada 29 Februari 2008, di Makati City hampir terjadi People Power ketiga ketika 80.000 rakyat turun ke jalan. Aksi ini menjadi pro-kontra di kalangan rakyat sendiri, karena menurut pihak Konferensi Uskup-Uskup Katolik Filipina (CBCP), aksi ini ditujukan sebagai doa dan aksi bersama melawan korupsi, namun akhirnya menjadi arus anti-Arroyo karena ikutnya Corazon Aquino dan Joseph Estrada sebagai pihak oposisi. Meskipun gagal, pihak oposisi menyerukan akan ada aksi 100.000 massa di jalan EDSA atau pusat kota Manila lainnya nanti untuk menurunkan Arroyo.

Ada perbedaan signifikan antara keberhasilan People Power pertama dan kedua dengan sulitnya terjadi People Power ketiga. Pertama, dukungan pihak militer yang terjadi saat 2 People Power sebelumnya tidak ada saat ini. Pihak militer memilih netral dan tidak terlibat aksi-aksi menuntut turunnya Arroyo. Dengan tidak adanya dukungan dari militer, pihak oposisi akan kesulitan untuk melakukan aksi damai karena dikhawatirkan akan terjadi bentrokan antara demonstran dengan polisi dan tentara yang bertugas menjaga keamanan. Selain itu, sumbangan dukungan dari militer juga diperlukan untuk menekan pemerintah. Kedua, tidak adanya dukungan langsung dari Konferensi Uskup-Uskup Katolik Filipina (CBCP). Di sini CBCP hanya mengeluarkan pernyataan mengecak tindakan korupsi dan mendukung perang terhadap korupsi, namun tidak secara langsung menuntut mundurnya Arroyo. Dukungan CBCP sengat diperlukan, karena suara dari CBCP mampu mengajak rakyat, terutama pihak gereja dan rohaniawan untuk turut bergabung. Belum lagi CBCP juga memiliki peran penting dalam politik Filipina. Dengan absennya militer dan CBCP, diprediksikan People Power ketiga akan sulit terjadi. Pihak oposisi juga menyatakan berkurangnya semangat People Power di kalangan rakyat, dengan menurunnya jumlah demonstran yang turun sejak People Power pertama.

People Power adalah bentuk kekuatan rakyat yang mampu menumbangkan penguasa. People Power juga merupakan salah satu simbol demokrasi. Aksi ini tidak dapat terjadi apabila semua elemen rakyat tidak bersatu padu, jelas merujuk pada People Power ketiga yang sulit terjadi karena tak ada dukungan militer dan CBCP. Selain itu, kekerasan dan kerusuhan jelas-jelas bukan bagian dari People Power.

People Power terbukti dua kali menunjukkan keperkasaannya. Dan sungguh mengagumkan memang, aksi tersebut dilakukan secara damai tanpa ada tindakan-tindakan anarkis. Sungguh berbeda ketika rakyat Indonesia turun ke jalanan menuntut mundurnya presiden Soeharto pada tahun 1998. Terlebih lagi di Indonesia, berbeda dengan di Filipina. Jika di Filipina pihak militer mendukung dan berada di belakang rakyat, sebaliknya terjadi di Indonesia. Militer yang berhadap-hadapan dengan para demonstran. Belum lagi isu-isu SARA yang merebak sehingga aksi-aksi kerusuhan, pembakaran, penjarahan tidak terelakkan lagi.(www.gunawanrudy.com)

 

Phillipines News

Killing of Philippine Journalists: No Masterminds Convicted

March 01-2008Posted by Jane Abao

The Supreme Court Chief Justice Reynato Puno egged on conference participants to bond together “in defense of freedom of the press,” warning that “an enforced silence” about the situation “cannot but give impetus to its growing culture of impunity.”Puno was speaking at the conclusion of an international conference on “Impunity and Press Freedom” at The Peninsula Manila launched on February 29.The Center for Media Freedom and Responsibility CMFR), co-organizer of the conference, had listed 71 journalists killed in the line of duty since democracy was restored in the country in 1986. Of these, 54 happened under the administration of President Gloria Macapagal-Arroyo, although only 34 are work-related.The State of Press Freedom Report 2007 prepared by CMFR noted that 90 percent of those killed were exposing government corruption.There have been few arrests, and zero conviction of the masterminds behind the murders, the CMFR further noted.”That’s what impunity means,” said Roby Alampay, executive director of the Bangkok-based Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) that also co-organized the conference with support from the New York-based Committee to Protect Journalists (CPJ) and the Open Society Institute (OSI).(www.topix.com/world/philippines)

The armed forces of the President, not the People

Mrach 1, 2008-Posted by Jane Abao

The media reported the thousands of outraged citizens who attended the massive gathering in Makati to manifest their outrage against Ms Arroyo and her gang of liars. But there were equally indignant citizens who could not do so because they were not allowed by the hypocritical soldiers.Entry points to the great gathering of indignant citizens in Makati were blocked by the soldiers and policemen under the orders of their commander in chief. Thousands of Filipinos who wanted to join the angry protest were barred by the Armed Forces for shallow and stupid excuses.The people were merely intending to add their voices to the indignant outcry against Ms Arroyo, her husband and their children, the blowhards in the Cabinet, the team who abducted Rodolfo Lozada and threatened his life, Mike Defensor who gave him P50,000 and Manuel Gaite who loaned him P500,000 supposedly from their own pockets and out of the goodness of their bleeding hearts.But the people were denied this constitutional right by the AFP. Filipinos who could not exhibit their identification cards were denied free passage. In another entry point, the road was blocked by a big bus that the soldiers said could not be moved because of engine trouble.(www.topix.com/world/phillippines)

 

Maret 4, 2008 at 7:32 am Tinggalkan Komentar


Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pos Berdasarkan Bulan

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.